Jumat, 12 Oktober 2012

ASKEP FRAKTUR FEMUR




  
1.    Definisi
Ada beberapa definisi menurut para ahli yaitu :
Fraktur adalah terputusnya kontiunitas tulang dan ditentukan sesuai dengan jenisnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang dapat di absorbsinya (Smeltzer & Bare, 2002 : 2357).
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang. (Price, 2006 : 1365).
Fraktur adalah terputusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan. Patah tulang dapat terjadi dalam keadaan normal atau patologis. Pada keadaan patologis, misalnya kanker tulang atau osteoporosis, tulang menjadi lebih lemah. Dalam keadaan ini, kekerasan sedikit saja akan menyebabkan patah tulang. (Oswari , 2005 : 144).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontiunitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Sjamsuhidayat, 2005 : 840).
Fraktur femur adalah terputusnya kontiunitas batang femur yang bisa terjadi akibat truma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian). Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam syok (FKUI dalam Jitowiyono, 2010 : 15).
Pasien datang dengan paha yang membesar, mengalami deformitas dan nyeri sekali dan tidak dapat menggerakan pinggul maupun lututnya. Fraktur dapat transversal, oblik, spiral maupun kominutif. Sering pasien mengalami syok, karena kehilangan darah 2 sampai 3 unit kedalam jaringan, sering terjadi pada faktur ini (Smeltzer & Bare, 2002:2379).
Dari beberapa definisi diatas penulis menyimpulkan bahwa pengertian fraktur adalah terputusnya kontiunitas tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa atau kekerasan, bisa dalam keadaan  normal atau patologis.



2.    Anatomi Fisiologi
Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk melekatnya otot-otot yang menggerakan kerangka tubuh. Ruang di tengah tulang-tulang tertentu berisi jaringan hematopoietik, yang membentuk berbagai sel darah. Tulang juga merupakan tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan fosfat (Price, 2006: 1357).
Ada 206 tulang dalam tubuh manusia, yang terbagi dalam empat kategori: tulang panjang (mis: femur), tulang pendek (mis: tulang tarsalia), tulang pipih (mis: sternum), dan tulang tak teratur (mis: tulang vertebra). Bentuk dan konstruksi tulang tertentu ditentukan oleh fungsi dan gaya yang bekerja padanya (Smeltzer & Bare, 2002: 2264).
Gambar 1: Anatomi tulang (http//www.4shared.com/gmbr_anatomi.html)
Bagian-bagian khas dari sebuah tulang panjang adalah diafisis (batang) merupakan bagian tengah yang berbentuk silinder. Bagian ini tersusun dari tulang kortikal yang memiliki kekuatan yang besar.
Metafisis adalah bagian tulang yang melebar di dekat ujung akhir batang. Daerah ini disusun oleh tulang trabekular atau tulang spongiosa yang mengandung sel-sel hematopoetik. Sum-sum merah juga terdapat di bagian epifisis dan diafisis tulang.
Metafisis juga menopang sendi dan menyediakan daerah yang cukup luas untuk perlekatan tendon dan ligamen pada epifisis. Lempeng epifisis adalah daerah pertumbuhan longitudinal pada anak-anak, dan bagian ini akan menghilang pada tulang dewasa. Bagian epifisis langsung berbatasan dengan sendi tulang panjang yang bersatu dengan metafisis sehingga pertumbuhan memanjang tulang terhenti. Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum, yang mengandung sel-sel  yang dapat berproliferasi dan berperan dalam proses pertumbuhan tulang panjang. Kebanyakan tulang panjang mempunyai arteri nutrisi khusus. Lokasi dan keutuhan dari arteri-arteri inilah yang menentukan berhasil atau tidaknya proses penyembuhan suatu tulang yang patah.

Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari tiga jenis sel, yaitu :
a.    Sel osteoblas
Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang. Sebagian dari fosfatase alkali akan masuk kedalam aliran darah, dengan demikian maka kadar fosfatase alkali didalam darah dapat menjadi indikator yang baik dalam pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang.
b.    Sel osteosit
Osteosit merupakan sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.
c.    Sel osteoklas
Osteoklas merupakan sel-sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat diabsorbsi. Tidak seperti osteoblas dan osteosit, osteoklas mengikis tulang. Sel-sel ini menghasilkan enzim-enzim proteolitik yang memecahkan matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang, sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah (Price, 2005:1358).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan pemeliharaan tulang adalah :
a.    Herediter
Masing-masing individu memiliki genetik untuk tinggi badan, dengan gen diturunkan dari kedua orang tuanya. Ada banyak gen yang terlibat, namun interaksinya belum diketahui secara pasti. Beberapa diantara gen-gen ini kemungkinan gen untuk enzim yang terlibat dalam pembentukan kartilago dan tulang karena demikianlah cara tulang bertumbuh.
b.    Nutrisi
Nutrien merupakan bahan mentah untuk pembuatan tulang. Kalsium, fosfor, dan protein menjadi bagian matriks tulang. Vitamin D yang diperlukan untuk absorbsi kalsium dan fosfor yang efisien oleh usus halus. Viatamin A dan C bukan merupakan bagian tulang, namun dibutuhkan untuk pembentukan matriks tulang (osifikasi).
c.    Hormon
Kelenjar endokrin memproduksi hormon yang menstimulasi efek spesifik pada sel tertentu. Beberapa hormon mempunyai peran penting hormon tersebut meliputi hormon pertumbuhan, tiroksin, hormon paratiroid, dan insulin yang membantu mengatur pembelahan sel, sintetis protein, metabolisme kalsium, dan produksi energi.
d.    Latihan atau ”tekanan” bagi tulang
Latihan berarti menahan beban, yang memang merupakan tugas khusus. Tanpa tekanan ini, tulang akan kehilangan kalsium lebih cepat dari pada penggantinya. Latihan tidak perlu berlebihan dapat berupa berjalan sebagaimana dilakukan dalam aktivitas sehari-hari. Tulang yang tidak mendapat latihan ini, misalnya pada pasien tirah baring, akan menipis dan mudah rapuh.(Scanlon, 2007:97).
Menurut Syaifuddin (2006:67), fungsi tulang secara umum meliputi :
a.    Formasi kerangka: tulang-tulang membentuk rangka tubuh untuk menentukan bentuk dan ukuran tubuh, tulang-tulang menyokong tubuh yang lain.
b.    Formasi sendi: tulang-tulang membentuk persendian yang bergerak dan tidak bergerak tergantung dari kebutuhan fungsional, sendi yang bergerak menghasilkan bermacam-macam pergerakan.
c.    Perlengkatan otot: tulang-tulang menyediakan permukaan untuk melekatnya otot, tendo dan ligamentum untuk melaksanakan pekerjaanya.
d.    Sebagai pengungkit: untuk bermacam-macam aktivitas selama pergerakan.
e.    Menyokong berat badan: memelihara sikap tegak tubuh manusia dan menahan gaya tarikan dan gaya tekanan yang terjadi pada tulang, dapat menjadi kaku dan menjadi lentur.
f.     Proteksi: tulang membentuk rongga yang mengandung dan melindungi struktur yang halus seperti otak, medula spinalis, jantung, paru-paru, alat-alat dalam perut dan panggul.
g.    Hemopoiesis : sumsum tulang tempat pembentukan sel-sel darah.
h.    Fungsi imunologi: limfosit ”B”  dan magrofag dibentuk dalam sistem retikuloendotel sumsum tulang.
i.      Penyimpanan kalsium: tulang mengadung 97 % kalsium yang terdapat dalam tubuh baik dalam bentuk anorganik maupun garam-garam terutama kalsium fosfat.
            Tulang paha (femur)
Tulang femur  merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar yang berhubungan dengan asetabulum membentuk kepala sendi yang disebut kaput femoris. Disebelah atas dan bawah dari kolumna femoris terdapat taju yang disebut trokanter minor dan trokanter minor. Dibagian ujung membentuk persendian lutut, terdapat dua buah tonjolan yang disebut kondilus medialis dan kondilus lateralis. Diantara kedua kondilus ini terdapat lekukan tempat letaknya tulang tempurung lutut (patela) yang disebut dengan fosa kondilus (syaifuddin, 2006:64).
Gambar 2: Anatomi tulang femur (http//www.4shared.com/gmbr_anatomi.html)
Pada bagian proksimal posterior terdapat tuberositas glutea yakni permukaan kasar tempat melekatnya otot gluteus maximus. Di dekatnya terdapat bagian linea aspera, tempat melekatnya otot biceps femoris.
Salah satu fungsi penting kepala tulang paha adalah tempat produksi sel darah merah pada sumsum tulangnya. (http://doctorology.net/?p=307).

3. Etiologi
Menurut Sachdeva dalam Jitowiyono dkk (2010: 16), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
a.    Cedera traumatik
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :
1).  Cedera langsung berarti pukulan/kekerasan langsung terhadap tulang sehingga tulang patah secara spontan ditempat itu. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya.
2).  Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula.
3).  Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat.
b.    Fraktur patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur, dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut :
1)    Tumor tulang (jinak atau ganas), pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif.
2)    Infeksi seperti osteomielitis, dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri.
3)    Rakhitis, suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh difisiensi vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
c.    Secara spontan
Disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas di kemiliteran (Jitowiyono dkk, 2010:16).

4.    Klasifikasi Fraktur
a.    Fraktur komplet adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran (beregeser dari posisi normal).
b.    Fraktur tidak komplet (incomplete) adalah patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.
c.    Fraktur tertutup (fraktur simpel) tidak menyebabkan robeknya kulit.
d.    Fraktur terbuka (fraktur komplikata/kompleks) merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membrana mukosa sampai ke patahan tulang. Fraktur terbuka dibagi menjadi tiga derajat, yaitu:
1)    Derajat I
Fraktur dengan luka bersih kurang dari 1 cm panjangnya.
2)    Derajat II
Fraktur dengan luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.
3)    Derajat III
Fraktur yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif, merupakan yang paling berat
e.    Jenis khusus fraktur
1)    Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedangkan sisi lainya membengkok.
2)    Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang.
3)    Oblik: fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang  ( lebih tidak stabil dibanding transversal).
4)    Spiral: fraktur memuntir sepanjang batang tulang.
5)    Komunitif: fraktur dengan menjadi beberapa fragmen.
Gambar 3: jenis-jenis fraktur
6)    Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah).
7)     Kompresi: fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
8)    Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit pager, mestastasis tulang, tumor).
9)     Avulsi:  tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo  pada perlekatanya.
10)  Epifisieal: fraktur melalui epifisis.
11)  Impaksi: fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainya.
f.     Bergeser/tidak bergeser
1.  Fraktur bergeser.
2.  Fraktur tidak bergeser  ( Smeltzer & Bare, 2002: 2358)
Menurut Black dan Mattasarin dalam Musliha (2010:133), fraktur diklasifikasikan berdasarkan kedudukan fragmen yaitu:
a.      Tidak ada dislokasi
b.      Adanya dislokasi, yang dibedakan menjadi :
1.    Dislokasi at axim yaitu membentuk sudut
2.    Dislokasi at lotus yaitu fragmen tulang menjauh
3.    Dislokasi at longitudinal yaitu berjauhan memanjang
4.    Dislokasi at lotuscum controtinicum yaitu fragmen tulang berjauhan dan memendek.
Gambar 4: tipe fraktur menurut garis frakturnya (http://doctorology.net/?p=307).
5.    Patofisiologi
Ada beberapa tahapan dalam penyembuhan tulang :
a.    Inflamasi
Dengan adanya patah tulang, tubuh mengalami respon yang sama dengan bila ada cedera di lain tempat dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan terjadi pembentukan hematoma pada tempat patah tulang. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri.
b.    Proliferasi sel
Dalam sekitar 5 hari, hematome akan mengalami organisasi. Terbentuk benang-benang fibrin dalam jendela darah , membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast.
c.    Pembentukan kalus
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang di gabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang serat imatur. Perlu waktu 3-4 minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus. Secara klinis, fragmen tulang tak bisa lagi digerakkan.
d.    Penulangan kalus (osifikasi)
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang melalui proses penulangan endokondral. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dan keras. Penulangan perlu waktu 3-4 bulan.

e.    Remodeling menjadi tulang dewasa
Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan stres fungsional pada tulang (Smeltzer & Bare, 2002:2268).

6.    Manifestasi Klinik
Menurut Smeltzer & Bare (2002:2358), manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstremitas, krepitasi, pembengkakan lokal dan perubahan warna.
a.    Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
b.    Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas ekstremitas, yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas yang normal. Ektremitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.
c.    Pada fraktur panjang terjadi pemendekan tulang, yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.
d.    Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang yang dinamakan krepitasi yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya. ( uji kripitasi dapat membuat kerusakan jaringan lunak lebih berat).
e.    Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelah bebebrapa jam atau hari setelah cedera.

7.    Komplikasi
Komplikasi fraktur yang terpenting adalah :
a.    Komplikasi awal
1).  Syok, dapat berakibat fatal dalam beberapa jam setelah edema
2).  Emboli lemak, dapat terjadi 24-72 jam
3).  Sindrom kompartemen, perfusi jaringan dalam otot kurang dari kebutuhan
4).  Infeksi dan tromboemboli
5).  Koagulopati intravaskular diseminata
b.    Komplikasi lanjutan
1).  Mal-union/ non union
2).  Nekrosis avaskular tulang
3).  Reaksi terhadap alat fiksasi interna ( Suratun, 2008: 151).

8.    Diagnosis
a.    Pemeriksaan fisik fokus
Kaji kronologi dari mekanisme trauma pada paha. Sering didapatkan keluhan nyeri pada luka terbuka.
1)    Look : pada fraktur femur terbuka terlihat adanya luka terbuka pada paha dengan deformitas yang jelas. Kaji seberapa luas kerusakan jaringan lunak yang terlibat. Kaji apakah pada luka terbuka ada fragmen tulang yang keluar dan apakah terdapatnya kerusakan pada jaringan beresiko meningkat respon syok hipovolemik. Pada fase awal trauma kecelakaan lalu lintas darat yang mengantarkan pada resiko tinggi infeks.
Pada fraktur femur tertutup sering ditemukan kehilangan fungsi,deformitas, pemendekan ekstremitas atas karena kontraksi otot, kripitasi, pembengkakan, dan perubahan warna lokal pada  kulit terjadi akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini dapat terjadi setelah beberapa jam atau beberapa setelah cedera.
2)    Feel : adanya keluhan nyeri tekan dan adanya kripitasi
3)  Move : daerah tungkai yang patah tidak boleh digerakan, karena akan memberika respon trauma pada jaringan lunak disekitar ujung fragmen tulang yang patah (Muttaqin, 2009: 303).

9.    Pemeriksaan Diagnosis
a.    Pemeriksaan rontgen : menetukan lokasi/luasnya fraktur/trauma
b.    Skan tulang, scan CT/MRI: memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
c.    Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
d.    Hitung darah lengkap: HT mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur) perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel.
e.    Kreatinin : trauma otot meningkatkan beeban kreatinin untuk klirens ginjal.
f.     Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi multipel, atau cidera hati ( Doenges dalam Jitowiyono, 2010:21).

10.  Penatalaksanaan
a.  Penatalaksanaan kedaruratan
Segera setelah cedera, pasien berada dalam keadaan bingung, tidak menyadari adanya fraktur, dan berusaha berjalan dengan tungkai yang patah. Maka bila dicurigai adanya fraktur, penting untuk mengimobilisasi bagian tubuh segera sebelum pasien dipindahkan. Bila pasien yang mengalami cedera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian, ektremitas harus disangga diatas dan dibawah tempat patah untuk mencegah gerakan rotasi dan angulasi. Gerakan angulasi patahan tulang dapat menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan lunak, dan perdarahan lebih lanjut.
Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara dengan bantalan yang memadai, yang kemudian dibebat dengan kencang. Pada cedera ekstremitas atas  lengan dapat dibebat dengan dada, atau lengan yang cedera dibebat dengan sling.
Pada fraktur terbuka, luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) untuk mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam.
b.  Prinsip penanganan fraktur
Prinsip penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan pengambilan fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.
1) Reduksi fraktur
Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis
a)    Reduksi tertutup : pada kebanyakan kasus, reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan  fragmen tulang keposisinya ( ujung-ujungnya saling berhubungan ) dengan manipulasin atau traksi manual.
b)    Traksi : dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.
c)    Redusi terbuka : pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dapat berupa pin, kawat, skrup, plat, paku atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.
2)    Imobilisasi fraktur
Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna dan interna. Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin dan teknik gips, atau fiksator eksterna.
3) Mempertahankan dan mengembalikan fungsi : segala upaya diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak. Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan.
4)    Faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur: diperlukan berminggu-minggu sampai berbulan–bulan untuk kebanyakan fraktur untuk mengalami penyembuhan. Adapun faktor yang mempercepat penyembuhan fraktur adalah:
a)    Imobilisasi fragmen tulang
b)     Kontak fragmen tulang maksimal
c)     Asupan darah yang memadai
d)     Nutrisi yang baik
e)     Latihan pembebanan berat badan untuk tulang panjang
f)      Hormon– hormon pertumbuhan, tiroid, kalsitonin, vitamin D, steroid anabolik
g)     Potensial listrik pada patahan tulang
Faktor – faktor yang memperhambat penyembuhan tulang
a)    Trauma lokal ekstensif
b)     Kehilangan tulang
c)     Imobilisasi tak memadai
d)     Rongga atau jaringan diantara fragmen tulang
e)     Infeksi
f)      Penyakit tulang metabolik
g)     Nekrosis avaskuler
h)     Usia (lansia sembuh lebih lama)  (Smeltzer & Bare, 2002 : 2359)

B. Konsep dasar fixsasi internal
1.  Definisi
Open Reduksi Internal Fiksasi (ORIF) adalah sebuah prosedur medis mengacu pada operasi terbuka untuk mengatur tulang , seperti yang diperlukan untuk beberapa patah tulang fiksasi internal. mengacu pada fiksasi sekrup dan / atau piring untuk mengaktifkan atau memfasilitasi penyembuhan.
ORIF mengacu pada prosedur pembedahan untuk memperbaiki patah tulang parah "Buka reduksi" berarti operasi diperlukan untuk menyetel kembali yang patah tulang ke posisi normal "Fiksasi Internal" mengacu pada batang baja, sekrup, atau pelat digunakan untuk menjaga patah tulang stabil untuk menyembuhkan cara yang benar dan membantu mencegah infeksi.
          Terapi fisik juga merupakan bagian penting dari proses pemulihan setelah terbuka internal fiksasi suatu pengurangan.. Karena bagian tubuh yang telah terluka biasanya diadakan diam atau bergerak untuk waktu yang lama, otot-otot, tendon , dan ligamen dapat menjadi lemah Terapi fisik membantu untuk memulihkan kekuatan, rentang gerak , dan daya tahan daerah yang terkena. Hal ini juga dapat membantu dengan manajemen nyeri.

2.    Indikasi
Menurut Sjamsuhidayat (2005:851), biasanya imobilisasi secara operasi dengan pin, skrup, pelat, atau alat lainya disebut osteosintetis. Operasi dipakai berbagai alasan dan indikasi seperti penghindaran imobilisasi penderita lama distrasi seperti prang tua dengan patah tulang leher femur atau orang muda dengan fraktur intraartikuler di lutut atau  di pergelangan kaki.
Indikasi  lain ialah penderita cedera multipel dengan patah tulang ekstremitasnya, penderita dapat dirawat lebih baik untuk cedera lain, seperti trauma otak, thoraks, atau perut. Pada fraktur terbuka dengan luka luas dan kerusakan banyak, perawatan luka dapat dikerjakan dengan lebih baik setelah tulang distabilisasi dengan cara osteosintesi. Cara ini dilakukan pula bila penanganan non bedah gagal, misalnya karena patah tulang patologi.

3.    Perawatan pasca bedah
Menurut Oswari (2005:29), untuk mengurangi perasaan sakit, dapat diberikan suntikan analgesik sesuai dengan perintah dokter. Jelaskan pada pasien bahwa sakit luka akan berkurang setelah 24 jam. Utnuk mengurangi perasaan nyeri, lakukanlah usaha sebagai berikut :
1)     Ubah sikap
Beri tambahan bantal dan ganjalah pinggang pasien dengan bantal.
2)     Nafas dalam-dalam
Untuk mencegah komplikasi paru - paru akibat pembiusan, suruh lah pasien menarik nafas dalam- dalam.bila pasien merasakan ada lendir yang menyumbat tenggorokannya, suruhlah ia batuk agara lendirnya keluar 
3)     Cuci muka dan tangan pasien
4)     Mencuci muka dan tangan pasien akan menyejukkan perasaan psien yang baru dioperasi.
5)     Basahi bibir
Bila pasien belum diizinkan minum, basahi lah bibr pasien dengan kapas basah
6)     Gosok pinggang pasien dengan alkohol
Pinggang dan tungkai bila diolesin alkohol akan terasa enak 
7)     Bila pasien sudah flatus, berilah minum sesendok air putih
8)     Buang air kecil
Pada umumnya operasi didaerah perut dan operasi kebidananan, setelah 8 – 10 jam pasien disuruh buang air kecil sendiri. Usahakan agar pasien buang air kecil sendiri. Bila perlu, siram dengan air dingin, kompres hangat, atau mengubah sikap tidur pasien. Seandainya usaha semua itu gagal dan pasien sudah merasa kesakitan karena kandung kemih nya penuh, barulah dilakukan kateterisasi urin. Semua air senih yang keluar harus diukur jumlahnya 
9)      Buang air besar
Setiap buang air besar harus dicatat. Bila pasien tidak buang air besar  selama 2 hari, p[erlu dilakukan klisma dengan gliserin hangat. Jangan diberi obat pencuci perut. Terutama pada pasien pasca laparotomi
10)  Sikap tidur pasien
Sikap tidur pasien perlu diperhatikan agar tidak terjadi komplikasi paru–paru yang tidak dapat berkembang dengan baik dapat menimbulkan pneumonia, pantat yang tidak bergerak-gerak dapat menimbulkan dekubitus karena peredaran darah terganggu. Semuanya itu dapat memperlambat operasi. 

4.    Perawatan luka operasi
Luka ditutup dengan kassa steril, sehingga sisa darah diserap oleh kassa tadi. Dengan menutup luka tadi kita mencegah terjadinya kontaminasi (kemasukan kuman), tersenggol, dan memberi kepercayaan pada pasien bahwa lukanya diperhatikan oleh perawat.
Jahitan luka biasanya dibuka setengahnya hari keenam atau ketujuh, kecuali bila ada perintah lain dari dokternya (Oswari, 2005:32).
Menurut Oswari ( 2005:49), proses penyembuhan luka terdiri tiga tahap :
1)    Tahap tidak lancar
2)    Tahap fibroplasia
3)    Tahap pengerutan
Tahap tidak lancar
Tahap ini terjadi bila serum dan sel darah membentuk jaringan dari searat didalam luka, lalu mengikat luka itu sehingga tampak seperti koreng kemerah-merahan.
Tahap fibroplasia
Tahap fibroplasia adalah keadaan penyembuhan dengan membentuk serat fibrolas dalam anyaman protein. Kemudian anyaman protein itu diserap perlahan-perlahan. Sementara itu timbul pula pembuluh darah kapiler dari pinggir luka, sehingga terbentuk jaringan baru yang masih kasar dan disebut jaringan granulasi. Jaringan granulasi ini berwarna merah, permukaanya benjol-benjol halus dan bila disentuh, mudah berdarah. Kemudian timbulah sel-sel baru dipinggir luka, sehingga akhirnya seluruh permukaan luak tertutup oleh sel-sel kulit baru.

Tahap pengerutan
Pertautan utama atau persatuan pertama. Luka pertama yang dibuat dikamar bedah biasanya aseptis dan jaringan yang rusak sedikit. Luka semacam ini akan sembuh dengansempurna dan disebut sembuh perprimam atau persatuan utama.
 Menurut Potter & Perry (2006:1859), Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka adalah :
1)    Nutrisi
Penyembuhan luka secara normal memerlukan nutrisi yang tepat. Proses fisiologi penyembuhan luka tergantung pada tersedianya protein, vitamin (terutama vitamin A dan C), mineral renik zinc dan tembaga. Kolagen adalah protein yang terbentuk dari asam amino yang diperoleh fibrolas dari protein yang dimakan. Vitamin C dibutuhkan untuk mensintesis kolagen. Vitamin A dapat mengurangi efek negatif steroid pada penyembuhan luka. Element ranik zinc  diperlukan untuk pembentukan epitel, sintesis kolagen (zink) dan menyatukan serat-serat kolagen. Klien yang telah menjalani operasi diberikan nutrisi yang baik masih tetap  membutuhkan sedikitnya 1500 kkal/hari.
2)    Penuaan
Walaupun tahap penyembuhan luka pada klien lansia terjadi secara lambat, aspek fisiologi penyembuhan luka tidak berbeda dengan klien yang masih muda. Masalah yang terjadi selama proses penyembuhan sulit ditentukan penyebabnya, karena proses penuaan atau karena penyebab lainya, seperti nutrisi, lingkungan atau respon individu terhadap stres.
Faktor-faktor yang mengganggu penyembuhan luka
1)    Usia
Penuaan dapat menganggu semua tahap penyembuhan luka
2)    Malnutrisi
Stres akibat luka atau trauma yang parah akan meningkatkan kebutuhan nutrisi
3)    Obesitas
Jaringan lemak kekurangan suplai darah untuk melawan infeksi bakteri dan untuk mengirimkan nutrisi serta elemen seluler yang berguna dalam  penyembuhan luka
4)    Gangguan oksigenasi
Tekanan oksigen arteri yamg rendah akan mengganggu sintesis kolagen dan pembentukan sel epitel
5)    Merokok
Merokok dapat mengganggu mekanisme sel normal yang dapat meningkatkan pelepasan oksigen kedalam jaringan
6)    Obat-obatan
Steroid menurunkan respon inflamasi dan memperlambat sintesis kolagen
7)    Diabetes
Hiperglikemia menganggu kemampuan leukosit untuk melakukan fagositosis dan juga mendorong pertumbuhan sel endotel dan jaringan kolagen
8)    Radiasi
Proses pembentukan jaringan parut vaskuler dan fibrosa akan terjadi pada jaringan kulit yang tidak teradiasi
9)    Stres luka
Tekanan mendadak yang tidak terduga pada luka insisi akan menghambat pembentukan sel endotel dan jaringan kolagen

5.    Komplikasi
Komplikasi dari ORIF dapat mencakup infeksi, pembengkakan, dan gerakan perangkat keras yang terpasang. Proses pemulihan dapat mengambil bulan, karena tulang tumbuh perlahan. Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi pemulihan lokasi dan tingkat keparahan istirahat, usia orang tersebut, dan jenis patah tulang. Risiko dan komplikasi dapat mencakup kolonisasi bakteri pada tulang, infeksi , kekakuan dan kehilangan berbagai gerakan , non-serikat, malunion, kerusakan otot, kerusakan saraf dan lumpuh, arthritis , tendonitis , kronis sakit yang terkait dengan pelat, sekrup, dan pin, sindrom kompartemen, deformitas .
http://www.wisegeek.com/what-is-orif.htm
C.    Konsep Dasar Keperawatan
1.    Asuhan keperawatan pascaoperatif
a. Pengkajian
menurut hidayat (2004:98), pengkajian merupakan langkah pertama dari proses keperawatan dengan mengumpulkan dat-data yang akurat dari klien sehingga akan diketahui berbagai permasalahan yang ada. Adapun pengkajian pada pasien post operasi menurut Suratun (2008:66) adalah :
1)  Lanjutkan perawatan pra operatif
2)  Kaji ulang kebutuhan pasien berkaitan dengan kebutuhan rasa nyeri, perfusi jaringan, promosi kesehatan, mobilitas dan konsep diri
3)  Kaji dan pantau potensial masalah yang berkaitan dengan pembedahan: tanda vital, derajat kesadaran, cairan yang keluar dari luka, suara nafas, bising usus, keseimbangan cairan, dan nyeri.
4)  Observasi resiko syok hipovolemia akibat kehilangan darah akibat pembedahan mayor (frekuensi nadi meningkat, tekanan darah turun, konfusi dan gelisah).
5)   Kaji peningkatan komplikasi paru dan jantung: observasi perubahan frekuensi nadi, pernafasan, warna kulit, suhu tubuh, riwayat penyakit paru, dan jantung sebelumnya.
6)  Sistem perkemihan: pantau pengeluaran urin, apakah terjadi retensi urin. Retensi dapat disebabkan oleh posisi berkemih tidak alamiah, pembesaran prostat, dan adanya infeksi saluran kemih.
7)  Observasi tanda infeksi ( infeksi luka terjadi 5-9 hari, flebitis biasanya timbul selama minggu kedua), dan tanda vital.
8)  Kaji komplikasi tromboembolik: kaji tungkai untuk tandai nyeri tekan, panas, kemerahan, dan edema pada betis.
9)  Kaji komplikasi embolik lemak: perubahan pola panas, tingkah laku dan perubahan kesadaran.
Sedangkan menurut Doenges (2000:761), data dasar pengkajian pada pasien dengan post op fraktur femur berhubungan dengan intervensi bedah umum yang mengacu pada pengkajian fraktur, yaitu:
1)  Aktivitas/istirahat:keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena
2)    Sirkulasi: hipertensi, hipotensi, takikardia, pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian yang tekena, pembengkakan jaringan
3)  Neurosensori: hilang gerakan/sensasi, spasme otot, kebas, deformitas lokal,
4)    Nyeri/kenyamanan: nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera, spasme/keram otot
5)    Keamanan: laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna, pembengkakan lokal

b.    Diagnosis keperawatan
Menurut Sumijantun (2010:189), diagnosa keperawatan merupakan langkah kedua dari proses keperawatan yang menggambarkan penilaian klinis tentang respon individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat terhadap permasalahan kesehatan baik aktual maupun potensial. Adapun diagnosa keperawatan pada kasus post op fraktur menurut Suratun (2008:67) adalah :
1)    Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, pembengkakan dan imobilisasi.
2)    Potensi perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan pembengkakan, alat yang mengikat, dan ganguan peredaran darah.
3)    Defisit perawatan diri berhubungan dengan kehilangan kemandirian.
4)    Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, pembengkakan, prosedur pembedahan, serta adanya imobilisasi, bidai, traksi, gips.
5)    Perubahan citra diri dan harga diri berhubungan dengan dampak muskuloskeletal.
6)    Resiko tinggi syok hipovolemik.
7)    Resiko tinggi infeksi
Sedangkan menurut Wilkinson dalam jitowiyono (2010:24), Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op fraktur meliputi:
1)    Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas.
2)    Intoleran aktivitas berhubungan dengan dispnea, kelemahan/keletihan, ketidak adekuatan oksigenisasi.
3)    Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi, dan penurunan sirkulasi, dibuktikan oleh terdapat luka/ ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, tyerdapat jaringan nekrotik
4)    Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan, kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan
5)    Resiko infeksi berhubungan dengan statis cairan tubuh, respon inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan
6)    Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi
c.      Intervensi keperawatan
Menurut Sumijantun (2010:203), perencanaan adalah fase proses keperawatan yang sistematik mencakup pembuatan keputusan dan pemecahan masalah. Adapun perencanaan keperawatan pada klien dengan post op fraktur femur menurut Suratun dkk, (2008:66) adalah :
1)    Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan, pembengkakan dan imobilisasi
Tujuan : nyeri berkurang atau hilang
Kriteria hasil:
a)     Nyeri berkurang/hilang
b)    klien tampak tenang
Intervensi:
a)  Kaji tingkat nyeri pasien
b)  Tinggikan ekstremitas yang dioperasi
c)  Kompres dingin bila perlu
d)  Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
e)  Kolaborasi dalam pemberian obat analgesik
Rasionalisasi :
a)    Mengetahui skala nyeri pada pasien
b)    Membantu mengontrol edema agar nyeri berkurang
c)    Untuk mengontrol nyeri dan edema
d)    Hal ini dapat mengurangi dan mengontrol nyeri
e)    Untuk mengontrol nyeri
2)   Perubahan perfusi jaringan  perifer berhubungan dengan pembengkakan, alat yang mengikat, gangguan peredaran darah.
Tujuan : memelihara perfusi jaringan adekuat
Kriteria hasil: tidak ada sianosis
Intervensi:
a)     Rencana pra operatif dilanjutkan
b)     Pantau status neurovaskular, warna kulit, suhu, pengisian kapiler, denyut nadi, nyeri, edema.
c)     Anjurkan latihan otot
d)     Anjurkan latihan pergelangan kaki dan otot betis setiap jam
Rasionalisasi :
a)    Meneruskan tindakan keperawatan
b)    parastesi pada bagian yang dioperasi, dan laporkan segera pada dokter bila ada temuan yang mengarah pada gangguan
c)    untuk mencegah atrofi otot
d)    untuk memperbaiki peredaran darah
3)  Defisit perawatan diri berhubungan dengan kehilangan kemandirian
tujuan : memelihara kesehatan
kriteria hasil: klien mampu merawat diri sendiri
intervensi :
a) Rencana pra operatif dilanjutkan
b)     Anjurkan pasien berpartisipasi dalam program penanganan pasca operatif
c)      Diet seimbang dengan protein dan vitamin adekuat sangat diperlukan
d)     Anjurkan banyak minum minimal 2 sampai 3 liter perhari
e)     Observasi adanya  gangguan integritas kulit pada daerah yang tertekan
f)       Ubah posisi tidur dalam setiap 2-3 jam sekali
g)     Bantu klien dalam pelaksanaan hyegien personal
h)     Libatkan keluarga dalam pemeliharaan kesehatan
Rasionalisasi:
a)    Melanjutkan tindakan keperawatan
b)    Membantu dalam proses keperawatan
c)    Untuk keshatan jaringan dan penyembuhan luka
d)    Memenuhi kebutuhan cairan
e)    Untuk mengetahui sedini mungkin adanya gangguan
f)     Untuk mencegah adanya penekanan pada kulit
g)    Untuk menghindari adanya kerusakan pada kulit
h)   Membantu dalam pemeliharaan kesehatan pasien
4)   Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri, pembengkakan, prosedur pembedahan, adanya imobilisasi, (bidai, gips, traksi)
Tujuan : memperbaiki mobilitas fisik normal
Kriteria hasil: melakukan pergerakan dan pemindahan
Intervensi :
a)     Kaji tingkat kemampuan mobilitas fisik
b)     Bantu pasien melakukan aktivitas selama pasien mengalami ketidaknyamanan
c)     Tinggikan ektremitas yang bengkakanjurka latihan ROM sesuai kemampuan
d)     Anjurkan pasien berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan
e)     Pantau daerah yang terpasang pen, skrup batang dan logam yang digunakan sebagai fiksasi interna
f)      Anjurkan menggunakan alat bantu saat sedang pasca operasi, sebagai tongkat
g)     Pantau cara berjalan pasien. Perhatikan apakah benar-benar aman.
Rasionalisasi :
a)    Mengetahui tingkat kemampuan mobilitas klien
b)    Menambah kemampuan klien dalam melakukan aktivitas
c)    Untuk memperlancar peredaran darah sehingga mengurangi pembengkakan
d)    Untuk mencegah kekakuan sendi
e)    Untuk memperbaiki tingkat mobilitas fisik
f)     Ini dilakukan untuk mempertahankan posisi tulang sampai terjadi penulangan, tetapi tidak dirancang untuk mempertahankan berat badan.
g)    Untuk mengurangi stres yang berlebihan pada tulang
5)   Perubahan citra diri dan harga diri berhubungan dengan dampak masalah muskuloskeletal
Tujuan : terjadi peningkatan konsep diri
Kriteria hasil: klien dapat bersosialisasi
Intervensi :
b)  Rencana perawatan pra operatif dilanjutkan
c)  Libatkan pasien dalam menyusun rencana kegiatan yang dilakukan
d)  Bantu pasien menerima citra dirinya serta beri dukungan, baik dari perawat, keluarga maupun teman dekat.
Rasional :
a)    Melanjutkan rencana tindakan keperawatan
b)    Mempercepat rencana tindakan keperawatan
c)    Stres,dan menarik diri akan mengurangi motivasi untuk proses penyembuhan
6)  Resiko tinggi komplikasi (syok hipovolemik)
Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik
Kriteria hasil: Klien tampak tenang
Intervensi :
a)    Pantau dan catat kehilangan darah pada pasien ( jumlah,warna)
b)    Pantau adanya peningkatan denyut nadi dan penurunan tekanan darah
c)    Pantau jumlah urin
d)    Pantau terjadinya gelisah, penurunan kesadaran dan haus
e)    Pantau pemeriksaan laboratorium, terutama penutunan HB dan HT. Segera lapor ke ahli bedah ortopedi untuk penanganan selanjutnya.
Rasionalisasi :
a)    Memantau jumlah kehilangan cairan
b)    Ini merupakan tanda awal syok
c)    Jika urin kurang dari 30 cc/ jam, itu merupakan tanda syok
d)    Rasa haus merupakan tanda awal syok
e)    Mengetahui terjadinya hemokosentrasi dan terjadinya syok hipovolemik

7)  Resiko tinggi infeksi
Tujuan : tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil: Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus
Intervensi :
a)    Pemberian antibiotik intra vena jangka panjang
b)    Kaji respon pasien terhadap pemberian antibiotik
c)    Ganti balutan luka dengan teknik aseptik, sesuai dengan program.
d)    Pantau tanda vital
e)    Pantau luka operasi dan catat cairan yang keluar
f)     Pantau adanya infeksi saluran kemih
Rasionalisasi :
a)    Untuk mencegah osteomielitis
b)    Menilai adanya alegi dengan pemberian antibiotik
c)     Mencegah kontaminasi dan infeksi nasokomial
d)    Peningkatan suhu tubuh diatas normal menunjukan adanya tanda infeksi
e)    Adanya cairan yang keluar dari luka menunjukan adanya infeksi pada luka
f)     Laporkan ke dokter bila ada infeksi yang ditemukan, hal ini sering terjadi setelah pembedahan ortopedik
Perencanaan keperawatan menurut wilkinson dalam jitowiyono (2010:25) pada klien dengan post op fraktur femur meliputi :
1)  Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas.
Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang
Kriteria hasil:
1.    Nyeri berkurang atau hilang
2.    Klien tampak tenang
Intervensi :
a)    Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga
b)    Kaji tingkat intensitas dan frekuensi nyeri
c)    Jelaskan pada klien penyebab nyeri
d)    Observasi tanda-tanda vital
e)    Lakukan kolaborasi dengan tim medis dalm pemberian analgesik
Rasionalisasi :
a)    Hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif
b)    Tingkat intensitas nyeri dan frekuensi menunjukan nyeri
c)    Memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri
d)    Untuk mengetahui perkembangan klien
e)    Merupakan tindakan dependent perawat. Dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri
2)    Intoleran aktivitas berhubungan dengan dispnea, kelemahan/keletihan, ketidak adekuatan oksigenisasi.
Tujuan : pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas
Kriteria hasil :
a)  Prilaku merupakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri
b)  Pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu
c)  Koordinasi otot,tulang dan anggota gerak lainya baik
Intervensi:
a)  Rencanakan periode istirahat yang cukup
b)    Berikan latihan aktivitas secara bertahap
c)    Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan
d)    Setelah latihan dan aktivitas kaji respon pasien
Rasionalisasi :
a)    Mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secara optimal
b)    Tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secar perlahan dapat menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mbilisasi dini
c)    Mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali
d)    Menjaga kemungkinan adanya respon abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan
3)    Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status metabolik, kerusakan sirkulasi, dan penurunan sirkulasi, dibuktikan oleh terdapat luka/ ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, terdapat jaringan nekrotik
Tujuan : mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai
Kriteria hasil :
a)    Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus
b)    Luka bersih tidak lembab dan tidak kotor
c)    Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi
Intervensi :
a)    Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka
b)    Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka
c)    Pantau peningkatan suhu tubuh
d)    Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kassa kering dan steril, gunakan plester kertas
e)    Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement
f)     Setelah debridement, ganti baluta sesuai kebutuhan
g)    Kolaborasi pemberian antibiotik
Rasionalisasi :
a)    Mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam meltindakan yang tepat
b)    Mengidentifikasi tingkat keparahan akan mempermudah intervensi
c)    Suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasi sebagai adanya proses peradangan
d)    Tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi
e)    Agar benda asing atau jaringan yang teriinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainya
f)     Balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung pada kondisi parah/tidaknya luka, agar tidak terjadi infeksi
g)    Antibiotik berguna untuk memetikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang terjadi infeksi
4)    Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan, kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan
Tujuan : pasien akan menunjukan tingkat mobilitas optimal
Kriteria hasil :
a)    Penampilan yang seimbang
b)    Melakukan pergerakan dan pemindahan
c)    Mempertahankan mobilitas optimal yang dapat ditoleransi dengan karakteristik :
0 = mandiri penuh
1 = memerlukan alat bantu
2 = memerlukan bantuan darinorang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran
3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat bantu
4 = ketergantungan tidak berpartisipasi dalam aktivitas
Intervensi :
a) Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan
b)  Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas
c)  Ajarkan dan pantau dalam hal pengguanaan alat bantu
d)  Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif
e)  Kolaborasi dalam hal ahli terapi fisik
Rasionalisasi :
a)  Mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi
b)  Mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan
c)  Menilai batasan kemempuan aktivitas optimal
d)  Mempertahankan/keningkatkan kekuatan dan ketahanan otot
e)  Sebagai suatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/ meningkatkan mobilitas pasien
5)   Resiko infeksi berhubungan dengan statis cairan tubuh, respon inflamasi tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukan, luka/kerusakan kulit, insisi pembedahan
Tujuan : infeksi tidak terjaadi/ terkontrol
Kriteria hasil :
a) Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus
b) Luka bersih tidak lembab dan tidak kotor
c) Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi
Intervensi :
a) Pantau tanda-tanda vital
b) Lakukan perawatan luka dengan tehnik aseptik
c)    Lakukan perawatan terhadap prosedur invasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll
d)    Jika ditemukan tanda-tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit
e)    Kolaborasi untuk pemberian antibiotik
Rasionalisasi :
a)    Mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat
b)    Mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen
c)    Untuk mengurangi resiko infeksi nasokomial
d)    Panurunan Hb dan peningkatan leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi
e)    Antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen
6)    Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan
Kriteria hasil :
a)    Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan
b)    Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan kut serta dalam regimen perawatan
Intervensi :
a)    Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya
b)    Berika penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang
c)    Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makananya
d)    Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang dilakukan
Rasionalisasi :
a)    Mengetahui seberapa jauh penglaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya
b)    Dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi cemas
c)  Diet dan pola  makan yang tepat membantu proses penyembuhan
d)    Mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan

d.    Implementasi
      Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan (Nursalam, 2001:63).
      Pelaksanaan tindakan kepewaratan pada klien fraktur femur dilakukan sesuai dengan perencanaan keperawatan yang letah ditentukan, dengan tujuan unutk memenuhi kebutuhan pasien secara optimal.
      Pelaksanaan adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan.
Jenis tindakan :
1)    Mengkaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri.
2)    Membantu dalam rentang gerak klien pada ekstremitas yang sakit dan yang tidak sakit.
3)    Memperhatikan dan mengkaji peningkatan nyeri, adanya edema.
4)    Memberikan dorongan bantuan pada aktivitas kehidupan sehari-hari sesuai kebutuhan.
5)    Mengkaji kulit pada daerah luka, kemerahan dan perubahan warna.
6)    Mengobservasi dan mencatat masukan makanan klien.
7)    Mengkaji ulang patologi, prognosis dan harapan yang akan datang.

e.    Evaluasi
      Evaluasi adalah intelektual untuk melengkapi proses asuhan keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaanya yang berhasil dicapai. Meskipun evaluasi diletakkan pada akhir asuhan keperawatan, evaluasi merupakan bagian integral pada setiap tahap asuhan keperawatan (Nursalam, 2001:71).
Setelah data dikumpulkan tentang status keadaan klien maka perawat memebandingkan data dengan outcomes. Tahap selanjutnya adalah membuat keputusan tentang pencapaian klien outcomes, ada 3 kemungkinan keputusan tahap ini :
1)    Klien telah mencapai hasil yang ditentukan dalam tujuan
2)    Klien masih dalam catatan hasil yang ditentukan
3)    Klien tidak dapat mencapai hasil yang ditentukan (Nursalam, 2001:73).

untuk teman-teman perawat, ini hanya sebagian tulisan ilmiah yang aku susun,,, mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua...
kalau ada kekurangan atau kesalahan mohon koreksi nya agar dunia kesehatan lebih berkembang...

because, we not will a better, if we are not to effort....
so... do what can you to do...

1 komentar:

  1. ko referensix nda ad ....... pdhl sdh bgus loo :)

    BalasHapus